Senin, 25 Mei 2020

Hindari Suka Marah saat Hamil, Ini 5 Risiko yang Bisa Ditimbulkan



Image  :  Pixabay


Bagi para ibu hamil sensitif terhadap makanan tertentu itu jamak terjadi, namun disamping itu bagi beberapa ibu hamil terkadang juga sering sensitif perasaannya. Apa saja itu? Misalnya saja jadi mudah tersinggung, mudah marah saat menghadapi sesuatu dan sebagainya. Hal ini wajar saja terjadi karena adanya perubahan hormon dalam tubuh ibu selama kehamilan.

Meski begitu, jangan biarkan kemarahan tersebut menguasai Anda. Bagi Anda para ibu hamil harus bisa mengontrol emosi negatif dengan baik agar tidak mudah marah. Sebab, sering marah saat hamil bisa berdampak negatif pada bayi di dalam kandungan.

Psikolog Industri & Organisasi, Intan Erlita, seperti ditulis kumparan.com menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak ternyata terjadi sejak ia masih dalam kandungan. Nah, emosi negatif yang dirasakan ibu bisa menular pada bayi di dalam kandungan dan hal itu bisa mempengaruhi karakternya kelak.

Dilansir dari Department of Health Australia, ketika sedang hamil, bayi dalam kandungan dapat terekspos semua yang dialami ibunya, termasuk suara-suara di sekitar, udara yang dihirup, makanan yang dikonsumsi, dan emosi yang dirasakan, termasuk juga ketika ibu sedang marah. 


Risiko Marah Saat Hamil

Mudah marah saat hamil disebabkan oleh adanya perubahan hormon selama kehamilan, kecemasan berlebih, rasa takut terhadap kondisi kehamilan, ketidaknyamanan saat hamil, dan masalah kehidupan.

Berikut ini merupakan risiko marah saat hamil yang dapat terjadi jika tidak diatasi.

1. Menghambat Aliran Darah dan Oksigen

Risiko marah saat hamil dapat menghambat aliran darah dan oksigen ke janin yang sedang dikandung. Kondisi jantung dan tekanan darah akan naik saat sedang marah, saat itu hormon adrenalin dan epinefrin yang memicu stres dan ketegangan dapat menyebabkan pembuluh darah mengerut.

Darah pun akan sulit mengalir ke janin yang akan menjadi salah satu faktor risiko kegagalan plasenta yang tidak berkembang dengan baik.

Akibatnya, plasenta yang rusak tidak dapat memasok oksigen dan nutrisi yang cukup dari aliran darah ibu. Jika hal ini terjadi, kemungkinannya bayi akan lahir prematur, berat badan yang rendah, serta fatalnya akan membuat cacat lahir.

2. Keguguran

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tommy’s, The Baby Charity yang merupakan badan amal asal Inggris memaparkan bahwa wanita hamil yang sering marah akan berisiko melahirkan bayi prematur, keguguran, hingga kematian dalam kandungan.

Kondisi ibu hamil yang tidak dapat mengontrol emosi dapat berpengaruh buruk pada bayi. Ketika bayinya lahir, bayi akan mudah rewel.

3. Menghambat Produksi ASI

Risiko marah saat hamil juga akan memengaruhi produksi ASI.  Stress fisik dan mental seorang ibu hamil dapat memperlambat produksi ASI, sehingga ASI telat keluar yang disebabkan karena minimnya hormon oksitosin dalam tubuhnya. Akibatnya, anak akan mudah rewel dan frustasi karena tak kunjung mendapatkan makanan.

4. Memengaruhi Tingkat Immunoglobulin dalam ASI

Immunoglobulin merupakan antibodi yang disalurkan dari ibu melalui ASI untuk membangun siste kekebalan tubuh bayi.

Dilansir dari Women’s Mental Health Center, wanita dengan tingkat emosi negatif dan memiliki kecemasan tinggi saat sedang hamil akan menunjukkan kadar immunoglobulin yang rendah.  Kondisi ibu hamil yang sedang stress dapat memberi dampak bagi produksi ASI.

5. Perkembangan Janin

Jika ibu hamil kerap merasa stress dan mudah marah akan mengakibatkan perkembangan pada janin menjadi tidak baik. Risiko marah saat hamil ini dapat menyebabkan daya otak dalam berpikir bayi akan terhambat yang membuat bayi akan berkembang lebih lambat dari biasanya.

Agar menjadi ringan nantinya, akan lebih baik jika ibu menjaga kesehatan bayi sejak masih dalam kandungan, sehingga tidak harus repot saat bayi telah lahir.  Moms harus memahami bahwa Moms adalah perantara interaksi pertama bayi dengan dunia luar.

Bayi dalam kandungan akan mengalami rangsangan eksternal, sekaligus mengenali apa yang dirasakan ibunya saat stress dan amarah memicu pelepasan hormon kortisol dalam aliran darah, melalui plasenta dalam hitungan detik.

Untuk bisa merasakan emosi positif saat hamil, cobalah untuk rutin olahraga ringan, meditasi, atau melakukan hobi yang Anda sukai.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar